Sejarah Sabung Ayam Siam

Sabung ayam ini diadakan sebagai sebuah acara keramain yang sering mengandung unsur perjudian dengan memperlagakan dua ekor ayam jantan pilihan. Pada dahulu tontonan ini diadakan terang terangan dan bahkan hampir diikuti dengan taruhan uang yang tidak sedikit. Untuk budaya adu ayam pernah merata hampir di seluruh Indonesia Tetapi kebiasan ini sudah dilarang, selain karena unsur perjudian atau ilegal, ini karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan. Pada kesempatan kita kali ini akan mengenai lebih dalam mengenai sejarah sabung ayam siam, mungkin dari sebagian kalian masih banyak yang belum mengetahuinya. Yuk langsung simak penjelasannya dibawah ini!

Sejarah dari Sabung Ayam Siam

Ayam bangkok untuk yang pertama kalinya dikenal di Cina pada 1400 SM. Ayam jenis ini selalu dikaitkan dengan kegiatan adu ayam ( sabung ayam ). Tapi lama kelaman kegiatan sabung ayam ini makin meluas bagi para pencarian bibit bibit petarung yang handal. Pada masa itu, bangsa cina yang berhasil mengawinsilangkan ayam kampung mereka ini dengan beragam jenis ayam jago dari Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, dan India. Bagi para pencari bibit uini terus berusaha untuk mendapat ayam yang sanggup untuk melawan ayam lain hanya dengan satu kali tendangan. 

Menurut dengan catatan, sekitar seabad lalu, bagi orang orang thailand yang telah berhasil menemukan jagoan baru yang disebut dengan King’s Chicken. Ayam ini memiliki gerakan cepat, pukulan yang sangat mematikan dan pada saat bertarung otaknya akan jalan. Para penyabung ayam dari cina ini menyebut ayam sebagai leung hang qhao. Tapi kalau di negara sendiri, ia dikenal sebagai ayam bangkok. Asal kalian tahu saja, untuk jagoan baru itu telah sukses menumbangkan pada hampir semua ayam domestik di cina. Inilah yang juga mendorong orang cina untuk menjelajahi hutan hanya untuk mencari ayam asli yang akan disilangkan dengan ayam bangkok yang tadi. Dengan harapannya, ayam silangan ini mampu menumbangkan keperkasaan jago dari Thailand. Kono, pada saat era 60 an di Laos nongol di sebuah strain baru ayam aduan yang sangat menyaingi kedigdayaan ayam bangkok. Tetapi setelah terjadinya kawin silang ini yang terus menerus nyaris tidak diketahui dengan perbedaan antar ayam aduan dari bangkok dan dari laos. Di thailand dan Laos, terdapat beberapa nama penyabung yang patut untuk di catat seperti Xiong Cha Is, Vaj Kub, dan kolonel Ly Xab. Pada tahun 1975, ayam bangkok milik Vaj Kub ini sempat merajai nampang, arena yang terbilang cukup bergengsi di negeri PM Thaksin Shinawatra. Ayam yang bernama Bay ini adalah salah satu hasil tangan dingin Vaj Kub dengan melatih dan mencari bibit ayam aduan yang handal. 

Dari kesaktian ayam ayam hasil ternakan dari Vaj Kub yang berhasil disaingi oleh rekan sejawatnya dari kota Socra, Malaysia. Mereka merupakan dari negeri jiran ini mampu menelurkan parent stock atau juga indukan unggul. Hanya saja, pada generasi yang berikutnya Mr, Thao Chai dari Thailand ini berhasil menumbangkan dominasi ternak dari Malaysia. Mr Taho in juga memberi nama jagoan baru yaitu Diamond atau Van Phet. Menurut Iwan, Thailand ini memang tidak perlu untuk diragukan lagi sebagai negara dari penghasil ayam bangkok yang unggul. Malahan untuk sektor ini telah diakui sebagi penambah devisa negeri gajah putih tersebut. Dari Thailand bisnis ayam aduan ini tidak hanya merambah ke kawasan Asia Tenggara saja, tetapi telah meluas ke Inggris, Amerika Serikat, dan Meksiko.

Terdapat kebiasaan yang berbeda diantara sabung ayam Thailand dengan negara kita. Di Thailand, ayam yang bertarung ini tidak diperbolehkan memakai taji. Alhasil, untuk ayam yang diadu ini jarang ada yang bisa sampai mati. Begitu juga kebalikannya di Indonesia, ayam aduan ini justru dibekali dengan taji yang tajam. Taji ini justru telah menjadi salah satu senjata untuk membunuh lawan di arena. Di Indonesia, bagi yang hobi mengadu ayam sudah lama dikenal, kira kira sejak dari zaman Kerajaan Majapahit. Kita juga telah mengenal beberapa cerita dari rakyat yang melegenda perihal adu ayam, seperti cerita dari Ciung Wanara, Cindelaras, dan Kamandaka. Cerita rakyat ini juga berkaitan sangat erat dengan kisah sejarah dan juga petuah yang telah disampaikan secara turun temurun.

Kota Tuban, Jawa Timur yang juga diyakini sebagai kota yang telah berperan dengan perkembangan ayam aduan. Disini, ayam bangkok untuk pertama kalinya diperkenalkan di negara kita. Tidak adanya keterangan yang bisa menyebutkan mengenai siapa yang pertama kali telah mengintroduksi dari ayam bangkok Thailand. Sebenarnya, jenis ayam aduan dari dalam negeri tidak kalah beragam, seperti dengan ayam wareng dan ayam kinantan. Tetapi ayam ayam ini belum mampu untuk bisa menyaingi dengan kekuatan ayam bangkok.

Sejarah dari Sabung Ayam di Brunei D.S

Lumut Lunting dan Pulau Pilong Pilong Lumut Lunting yang berada diantara Pulau Sibungur dengan Pulau Berambang pada kawasan Sungai Brunei. Lumut Lunting merupakan legenda yang telah dikaitkan dengan mengenai kisah persabungan ayam antara Brunei dengan Majapahit seperti terdapat di dalam Syair Awang Semaun. Dari cerita persabungan ayam ini menjadi cerita lisan yang juga dikenal pada kalangan masyarakat Brunei dan dipertuturkan dibanding dengan satu generasi ke satu generasi. Menurut Syair Awang Semaun, saat Brunei telah diperintah oleh Awang Alak Betatar, Batara Majapahit yang bernama Raden Angsuka Dewa ini datang ke Brunei untuk mengadakan dari perlawanan sabung ayam. Raden Angsuka Dewa memiliki seekor ayam sabung yang sangat perkasa yang diberi nama Asmara dan bahkan telah banyak mengalahkan ayam sabung yang lain dari negeri yang lainnya. Brunei ini juga terdapat ayam sabung yang perkasa, yang dipunyai oleh Awang Senuai adalah anak saudara Awang Alak Betatar. Ayam tersebut juga diberi nama Mutiara, maka dari itu Ratu Majapahit ini telah mengatakan kepada Raja Brunei untuk mengadakan perlawan sabung ayam. 

Di dalam perlawanan itu Betara Majapahit membuat pertaruhan yang merupakan bila ayamnya ini kalah, maka baginda akan menyerahkan 40 buah kapal serta dengan isi harta yang ada didalamnya ini kepada Raja Brunei dan begitu juga sebaliknya bila ayam Raja Brunei ini kalah, maka Raja Brunei i ni hendak menyerahkan sebagian dari wilayah kekuasaan baginda kepada Majapahit. Persabungan ini ayam Ratu Majapahit telah kalah dan bahkan telah terbang melarikan diri, lalu jatuh ke laut yang berdekatan dengan Pantai Muara dan seterusnya telah menjadi batu, dan dikenal dengan nama pilong pilongan. Dari kekalahan ini telah menyebabkan Ratu Majapahit ini merasa sangat malu bahkan murka lalu dia menyumpah bahwa mutiara menjadi batu. Akibat dari sumpahan nya itu, Mutiara yang sangat itu terbang telah jatuh ke sungai brunei dan langsung menjadi batu yang mana seakan akan ini menjadi suatu pulau kecil dan dikenal dengan nama Lumut Lunting. 

Demikian sebagian dari penjelasan sejarah sabung ayam siam ini, semoga ini menambah pengetahuan kalian mengenai sabung ayam. Terima kasih!